Rabu, 19 November 2008

kenapa mulut jadi kering???

Xerostomia atau mulut terasa kering bukanlah merupakan suatu penyakit, tetapi bisa menjadi suatu gejala pasti dari suatu penyakit. Ini dapat memberikan efek negatif yang serius pada kualitas hidup pasien, mempengaruhi kebiasaan makan, status gizi, berbicara, pengecapan, ketidaknyamanan pada penggunaan gigi tiruan, dan meningkatnya kemungkinan terserang karies atau gigi berlubang. Peningkatan karies dapat terjadi pada banyak pasien, oleh karena itu perawatan khusus harus diberikan pada pasien dengan kondisi xerostomia.
Penyebab xerostomia adalah sebagai berikut:
1. medikasi, seperti: antihypertensives, antidepressants, analgesics, tranquilizers, diuretics dan antihistamines c
2. terapi kanker; kemoterapi obat dapat menyebabkan berkurangnya jumlah aliran dan komposisi saliva. Radioterapi yang difokuskan pada atau sekitar glandula saliva dapat menyebabkan rusaknya glandula saliva secara temporer maupun permanent.
3. Sjorgen’s syndrome; suatu penyakit autoimun yang menyebabkan xerostomia dan mata kering.
4. kondisi lain; seperti transplantasi sum- sum tulang, kerusakan kelenjar endokrin, stress, ansietas, depresi dan kekurangan gizi.
5. kerusakan syraf; trauma yang terjadi pada area kepala dan leher dari operasi ataupun penyembuhannya dapat menyebabkan kerusakan syaraf yang menyuplai sensasi ke rongga mulut. Glandula saliva tidak dapat berfungsi secara normal jika tidak ada rangsang dari syaraf untuk memproduksi saliva.
Kondisi xerostomia yang berkaitan dengan penyakit lain:
Xerostomia yang terjadi pada pasien dapat membantu seorang dokter (gigi) untuk mengidentifikasi/ mendiagnosis suatu penyakit yang dimiliki oleh pasien tersebut.
Pada kondisi demam atau diare dalam jangka waktu yang lama dapat terjadi gangguan dalam pengaturan elektrolit yang diikuti dengan terjadinya keseimbangan air negatif yang menyebabkan turunnya sekresi saliva.
Beberapa penelitian yang dilakukan pada pasien Diabetes mellitus yang tidak terkontrol memperlihatkan terjadinya pengurangan aliran saliva. Pengurangan saliva ini dipengaruhi oleh faktor angiopati, neuropatik diabetic, perubahan pada kelenjar saliva parotis dan poliuri yang berat.
Pada penderita gagal ginjal kronis juga bisa terjadi xerostomia. Keadaan ini disebabkan karena pada penderita gagal ginjal kronis penurunan output. Untuk menjaga keseimbangan cairan tetap terjaga maka perlu intake cairan yang trbatas. Pembatasan intake cairan akan menyebabkan penurunan aliran saliva dan saliva menjadi kental.
Kelainan syaraf yang diikuti gejala degenerasi, seperti skelerosis multiple akan mengakibatkan hilangnya inervasi kelenjar saliva, kerusakan pada parenkim kelenjardan duktus. Kerusakan pada suplai kelenjar saliva juga dapat mengurangi sekresi saliva.
Xerostomia merupakan gejala mulut yang relative umum pada penderita AIDS. Lebih lanjut telah diamati beberapa factor yang berpotensi menyebabkan xerostomia pada penderita AIDS meliputi obat- obatan, terapi radiasi pada Kaposi sarcoma rongga mulut yang mengenai kelenjar saliva, dehidrasi, depresi dan kecemasan.
Penderita Rematoid arthritis juga mengalami xerostomia. Keadaan ini dihubungkan dengan adanya kemunduran pada parenkim kelenjar saliva dan obat- obatan yang dikonsumsi untuk perawatan Rematoid arthritis (Sasanti dan Hasibuan,2000)

referensi
Hasibuan, S dan Sasanti, H, 2000, Xerostomia, factor etiologi, etiologi dan dan penanggulangan, jurnal Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (Edisi Khusus), Jakarta, halaman 241-248

1 komentar:

aiU mengatakan...

UpzZ...
oRg Dr BaweAn nEh???
sLam keNAL yaA kAk...
cUz Quw Jg dR bAweAn...
BrrTi KaNd qT yaA...mSh dHa uNsuR2 sAudaRa LahH..
tUq aRtikELnyA mAcii yAa dAh bS mEmbanTu...